Kamis, 13 Desember 2007

ILMU PENGETAHUAN & KEBENARAN

Copernicus, penemu teori “Matahari-sentris”, sangat ditentang kala itu, khususnya oleh kalangan gereja yang meyakini “Bumi-sentris”. Pada tahun 1609, Galileo, sang penemu teleskop, mendukung teori Copernicus. Melalui teleskopnya dia bisa melihata saturnus yang dilingkari gelang-gelang, dan tahulah dia bahwa ada buah planet yang berputar mengelilingi bumi ini. Selanjutnya penelitiannya itu beralih ke planet Venus. Ini merupakan bagian dari bukti penting yang mengukuhkan teori Copernicus bahwa bumi dan semua planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Hal inipun sebenarnya telah dibenarkan oleh Al-qur’an sebagai berikut:
“Ia-lah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, (Ia-lah yang) menentukan manzilah-manzilah baginya, supaya kamu tahu jumlah tahun dan penghitung (waktu). Tiada allah menciptakan ini, kecuali dengan sebenarnya. (Demikianlah) Ia menjelaskan ayat-ayat bagi orang yang mengetahui. (surat yunus ayat 5)”
Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan Galileo barhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya pada tahun 1616. Dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus. Galileo merasa terjepit selama bertahun-tahun. Baru setelah paus meninggal dunia pada tahun 1623, dia (paus) digantikan oleh orang yang mengagumi Galileo. Paus baru ini, Urban VIII, mamberi pertanda walau samar-samar bahwa larangan terhadap Galileo tidak lagi diteruskan.
Enam tahun berikutnya Galileo menyusun karya ilmiahnya yang berjudul “Dialog Tentang Dua Sistem Penting Dunia”. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja menanggapi dengan sikap berang tatkala buku itu terbit, dan Galileo langsung diseret ke muka Pengadilan Agama diRoma. Hukuman terhadapnya hanyalah suatu permintaan agar dia secara terbuka mencabut kembali pendapatnya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Ilmuan berusia 69 tahun ini terpaksa melaksanakannya (permintaan gereja) dihadapan pengadilan terbuka. Tetapi dia menunduk kebumi danberbisik pelan, “lihat dia (bumi ini) masih terus bergerak (berevolusi).” Dan Galileopun meninggal pada tahun 1642.
Kisah diatas sekiranya bisa menggambarkan, bahwa terkadang suatu kebenaran atas suatu ilmu pengetahuan sering ditutup-tutupi, untuk kepentingan diri sendiri atau oleh suatu golongan tertentu. Kejadian seperti diatas tidak hanya terjadi pada skala besar tetapi juga sering muncul untuk skala yang mungkin lebih kecil seperti kebohongan seorang manajer keuangan terhadap perusahaannya untuk menutup-nutupi tentang adanya kebocoran dana, yang akhirnya mengakibatkan perusahaan itu hancur. Atau mungkin pejabat-pejabat tinggi Negara yang membohongi rakyat banyak tentang keadaan Negara yang sebenarnya, akibatnya muncul krisis moral dan ekonomi yang berkepanjangan hingga saat ini. Hal ini sangat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

SALAH SATU MUKJIZAT AL QUR’AN

Al-qur’an diturunkan oleh Allah swt melalui nabi Muhammad saw yang buta huruf kala itu. Ia dilahirkan ditengah-tengah kaum yang terbelakang peradabannya, dijazirah Arab. Al-qur’an diturunkan selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.
Seperti diketahui, seringkali Al-qur’an turun secara spontan, guna menjawab barbagai pertanyaan atau mengomentari suatu perstiwa. Pertanyaan itu dijawab secara langsung, namun demikian, setelah rampung diturunkan dan disusun, kemudian dilakukan analisis serta perhitungan terhadap catatan redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakan, seperti keserasian, atau jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Anda bisa bayangkan, Al-qur’an diturunkan secara sepotong-sepotong dan spontan, ditempat yang berlainan dalam waktu yang relatif panjang, dan terdiri dari 114 surat dan 77.493 kata. Serta turun melalui orang yang tidak bisa menulis dan membaca saat itu. Namun banyak ditemukan hal-hal yang mengejutkan. Contoh: dua kata yang sepadan dalam jumlah yang sama dan seimbang. Dan kata-kata yang berlawanan arti juga ditemukan dalam jumlah yang seimbang. Hanya sesuatu yang maha dahsyat yang mampu melakukan hal itu, dzat yang sangat tinggi ilmunya dan sangat luar biasa ketelitiannya. Dibuat dan disusun lebih dari seribu tahun yang lalu.
Abdur Razaq Nawfal, dalam Al I’jaz li al-qur’an al karim yang terdiri dari 3 jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara singkat dari tulisan karya M. Quraish Shihab yang berjudul “Membumikan Al-qur’an”, yaitu sebagai berikut:
a. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Bilangan Antonimnya
Beberapa contoh, diantaranya:
- Al Hayah (hidup) dan Al Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali!
- An Naf’ (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali!
- Al Har (panas) dan Al Bard (dingin), masing-masing sebanyak 4 kali!
- As Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing sebanyak 167 kali!
- Al thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing sebanyak 13 kali!
- Al Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (harap/ingin), masing-masing sebanyak 8 kali!
- Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman dalam bantuk definite masing-masing sebanyak 17 kali!
- Kufr (kekufuran) dan Iman dalam bentuk indefinite masing-masing sebanyak 8 kali!
- Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing-masing sebanyak 1 kali!

b. Keseimbangan Jumlah Kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya, contoh:
- Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/bertani), masing-masing sebanyak 14 kalil!
- Al ‘Ushb dan Al Dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing sebanyak 27 kali!
- Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya)), masing-masing sebanyak 17 kali!
- Al Islam dan Al Wahyu (Al-qur’an, Wahyu dan Islam), masing-masing sebanyak 70 kali!
- Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya), masing-masing sebanyak 49 kali!
- Al Jahr dan Al ‘Alamiyah (nyata), masing-masing sebanyak 16 kali!

c. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya, contoh:
- Al Infaq (infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing sebanyak 75 kali!
- Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing sebanyak 12 kali!
- Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakah (kebajikan yang banyak), masing-masing sebanyak 32 kali!
- Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadhb (murka), masing-masing sebanyak 26 kali!

d. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Kata Penyebabnya, contoh:
- Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing sebanyak 23 kali!
- Al Maw-izhah (nasehat/petuah) dengan Al Lisan (lidah), masing-masing sebanyak 25 kali!
- Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing sebanyak 6 kali!
- Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing sebanyak 60 kali!

e. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, ditemukan juga Keseimbangan Khusus, contoh:
- Kata Yawm (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali! Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
- Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan! Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun!
- Al-qur’an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh” penjelasan ini diulanginya dalam “tujuh” kali pula!
- Kata-kata yang menunjukkan kepada utusan tuhan baik rasul, nabiyy (nabi), Basyir (pembawa berita), ataupun nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

Masih ada lagi, mukjizat lainnya yaitu pemberitaan-pemberitaan ghaibnya. Fir’aun yang mengejar-ngejar nabi Musa diceritakan dalam Surat Yunus. Pada ayat 92 surat itu, ditegaskan bahwa: “Badan Fir’aun akan diselamatkan tuhan untuk dijadikan pelajaran generasi berikutnya. itu terjadi pada1200 SM. Pada tahun 1896, ahli purbakala, Loret menemukan dilembah raja-raja Luxor Mesir, satu mummi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama “Maniptah” yang pernah mengajar nabi Musa as. Setiap orang yang berkunjung ke Museum Kairo akan dapat melihat mummi dari Fir’aun tersebut.
Isyarat-isyarat ilmiahnya, banyak sekali ditemukan didalam Al-qur’an. Misalnya, “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan dari cahaya matahari”(Q.S 10:11)
Semua hal diatas menunjukkan bukti-bukti bahwa Al-qur’an sungguh-sungguh firman suci yang diturunkan oleh Allah malalui nabi Muhammad saw. Bukan karangan manusia. Tidak akan mungkin ada seseotang yang mampu menyusun suatu kitab seperti Al-qur’an, yang diturunkan secara spontan dan terpisah-pisah, baik dari sisi waktu dan tempat, namun dengan isi yang bisa diterima sebagai kebenatan serta memiliki jumlah kata-kat yang seimbang seperti contoh diatas seperti itu, apalagi saat itu belum ada computer.
Dan menurut Rasyad Khalifah (w. 1990M) angka 19 memiliki arti yang berkaitan dengan Al-qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Didalam Al-qur’an, kata ism, Allah, Ar Rahman, dan Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698:19=142), Ar Rahman 57 kali (57:19=3), Ar Rahim 114 kali (144:19=6).
Bismillahirrohmanirrohim adalah pangkalan tempat muslim bertolak, yang mempunyai 19 huruf, demikian juga dengan ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah” (tiada daya dan upaya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan allah). Inilah salah satu kunci yang mengamankan kesucian Al-qur’an yang merupakan salah satu mukjizatnya.
Jadi, mungkinkah seorang manusia mampu membuat suatu buku (Al-qur’an) dengan menghitung hingga huruf-hurufnya seperti itu. Namun tetap dengan tujuan untuk menyampaikan suatu amanat, melalui kalimat-kalimat yang demikian indah. Dan ia disampaikan secara mendadak, untuk menjawab dan merespons suatu pertanyaan. Kemudian secara terpisah diturunkan selama lebih dari 22 tahun, lalu dikumpulkan menjadi satu. Siapakah yang mampu melakukannya? Isinya pun harus benar dan masuk akal. Serta harus sesuai dengan hati nurani setiap manusia, dan harus pula bisa dibuktikan kebenarannya, baik ditinjau dari masa lalu, sekarang, atau masa yang akan datang.
Katakanlah: “Sesungguhnya, jika manusia dan jin berhimpun untuk membuat sesuatu yang sama dengan Al-qur’an ini, tiadalah mereka sanggup membuat yang sama seperti itu, sekalipun mereka saling membantu.(surat Al Israa’ ayat 88).”

Kamis, 06 Desember 2007

Manusia Dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan islam, manusia adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain.
Hal ini diperjelas didalam al-qur’an surat al-asrok ayat 70 yang artinya:
“dan sesungguhnya kami memuliakan anak adam atau manusia itu, kami angkut mereka didarat dan dilaut, kami beri mereka rizki yang baik-baik dan kami berikan mereka kelebihan yang banyak dari makhluk ciptaan kami lainnya.”
Ada 2 alasan mengapa manusia itu makhluk paling sempurna dan paling mulia:
Bentuk dan struktur biologisnya yang cukup bagus, sebagaimana firman allah yang artinya: “sesungguhnya kami ciptakan manusia itu sebagus-bagus bentuk”
Manusia itu dilengkapi dengan potensi rohani, yaitu akal, nafsu, perasaan dan hati nurani (hati kecil).
Oleh karena kelebihan yang dimiliki manusia itu, maka allah swt memberi kita amal sebagai “khalifah” dimuka bumi. Yang artinya diberi wewenang untuk menguasai dan mengolah semua sumber daya alam ini untuk kepentingan umat manusia. Seperti pada firman allah yang artinya: “dan ingatlah ketika tuhanmu berkata kepada malaikat, sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi(s.al-baqoroh: 30)”
Untuk itu, kita sebagai umat manusia yang telah diberi wewenang oleh allah untuk menguasai dan mengelolah bumi untuk kepentingan bersama, maka kita harus bisa menghiasi diri kita denga iman, amal soleh, ilmu dan akhlak yang mulia dengan menggunakan semua potensi rohani kita sesuai denga petunjuk allah swt. Karena kita semua akan kikembalikan ketempat yang serendah-rendahnya kecuali orang yang beriman dan beramal soleh (s. Attin:5-6). Dan allah juga akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kita umat manusia beberapa tingkat(s. al-mujahidilah:11). Dan allah akan memenuhi neraka jahanam itu dengan banyak jin dan manusia, karena meraka diberi hati tapi tidak berpikir, diberi mata tapi tidak melihat, diberi telinga tapi tidak mendengar. Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat lagi (s.al-a’rof:179).

Peranan Agama Dalam Kehidupan Manusia

Dalam kehidupan sehari-hari dapat disaksikan dengan jelas perbedaan orang yang beragama (yang menjalankan ajaran agam dengan baik) dengan orang yang hidupnya jauh dari ikatan agama. Pada wajah orang-orang yang menjalankan ajaran agama dengan baik nampak tanda-tanda ketenangan batin, tidak mudah cemas dalam menghadapi persoalan hidup dan tindakannya tidak merugikan orang lain.
Sebaliknya orang yang lepas dari tatanan agama, biasanya ia mampu bersikap tenang hanya pada waktu segalanya berjalan dengan baik dan menyenangkan. Akan tetapi bila keadaan mulai berubah, ia akan merasa panik dan cemas. Ada yang sampai terganggu kesehatannya ataupun melakukan sesuatu yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Pada garis besarnya peranan agama dalam kehidupan manusia ada tiga, yaitu:

a. Menjadi pembimbing dalam hidup
b. Menjadi penolong dalam menghadapi kesulitan
c. Untuk menentramkan batin

1. Agama menjadi pembimbing dalam hidup
Sikap seseorang dalalm hidup ini dipengaruhi oleh kepribadian dirinya. Dan kepribadian itu adalah kumpulan dari pengalaman, pendidikan dan keyakinan (agama) yang tertanam sejak awal. Dari unsur-unsur diatas faktor keyakinan atau agama paling dominan pengaruhnya terhadap sikap dan kepribadian seseorang. Bila agama sudah ditanamkan sejak awal maka akan membentuk sikap dari dalam diri secara otomatis, sehingga dalam menghadapi segala persoalan hidup ia selalu bersandar kepada ajaran agama yang diyakininya. Ia akan rajin berbuat baik karena ia sadar bahwa hal itu sesuai dengan perintah agama yang diyakininya dan akan menjauhi perbuatan yang tidak baik, karena ia sadar bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran agama.

2. Agama menjadi penolong dalam berbagai kesulitan
Bagi orang yang beragama dengan baik tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan. Ia menyadari bahwa kesulitan itu adalah bagian dari hidup ini, yang merupakan cobaan dari tuhan, karenanya ia sering meminta pertolongan kepadaNya, bersamaan dengan sikap sabar dan keyakinan bahwa tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik untuknya.
Orang yang beragama dengan baik selalu mengingat:
1. Allah tidak akan membebani (memberi cobaan) diluar kemampuan hambanya (surat Al-Baqarah ayat: 25)
2. Dibalik kesulitan ada kemudahan (surat An-Nasroh ayat: 6)
3. Kedekatan dengan allah akan mendapat jalan keluar dari kesulitan (surat Al-Qalaq ayat: 123)
4. Siapa yang benar-benar bertaqwa kepada allah akan diberiNya jalan keluar(dari kesulitan) dan akan diberiNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

3. Agama menentramkan batin
Orang yang beragama dengan baik selalu merasakan seolah-olah tuhan itu dekat dengan dirinya, sehingga ia merasa yakin senantiasa ditolong karena itu jiwanya menjadi tenang.
Agama yang dapat berperan seperti itu hanyalah agama islam, sesuai dengan firman allah dalam al-qur’an yang artinya “sesungguhnya agama yang diakui allah hanyalah islam” dan “siapa yang mencari agama lain selain islam, maka tidak akan diterima dan diakhirat ia akan rugi”
Islam terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Aqidah (keimanan)
· Iman kepada allah
· Iman kepada rasul
· Iman kepada malaikat
· Iman kepada hari kiamat
· Iman kepada kitab-kitab allah
· Iman kepada ketentuan allah
b. Syari’ah (hukum / peraturan)
· Hubungan manusia dengan allah
· Hubungan manusia dengan manusia
c. Akhlak
· Kepada allah
· Kepada rasul
· Kepada diri sendiri
· Kepada ibu dan bapak
· Kepada keluarga
· Kepada sesama muslim
· Kepada non muslim
· Kepada mahluk lain





Minggu, 04 November 2007

Merajut Cinta Dibawah Ancaman Kematian

Dia ramah dan energik. Begitu memasuki ruang cuci darah, ia sibuk menyapa perawat dan beberapa pasien. Sepintas, dia Iebih mirip seorang pengantar daripada penderita gagal ginjal. Padahal, ia telah memasuki tahun ketujuh, menjalani kehidupan yang tergantung pada mesin cuci darah. Selain ceria, secara fisik ia juga nampak segar, bahkan kulitnya pun masih kuning langsat. Boleh dibilang, kondisi seperti itu langka. Proses cuci darah secara terus menerus akan meninggalkan zat-zat tertentu yang menyebabkan kulit menjadi gelap.

Seperti hampir semua pasien lainnya, ia juga stres berat ketika divonis gagal ginjal tujuh tahun silam. “Dua tahun pertama harus cuci darah saya stres, belum bisa menerima kenyataan. Dunia terasa gelap, sempit. Tuhan tidak adil. Saya punya rencana, semua gagal karena sakit. Saya putus asa,” tutur Roslinawati pada Tarbawi.

Ros yang saat itu tinggal di Kalimantan, akhirnya kembali ke rumah onang tuanya di Jakarta untuk berobat. Ibu dan seluruh keluarga merawat Ros yang saking parahnya hingga ia tidak bisa berjalan, harus rnemakai oksigen 24 jam, dan keluar masuk rumah sakit. Kondisi tak berdaya itu membuat Ros marah pada semuanya, termasuk kepada Tuhan. Ia juga tidak mau bergaul, bahkan kesal bila melihat orang tertawa. “Saya benci pada din sendiri,” ucapnya.

Ros mengungkapkan, kemarahan dan penolakan atas penyakit itu malah memperburuk kondisiriya. Semakin memberontak, ia semakin sakit bahkan bernafas pun menjadi susah. “Saya jenuh, capek dengan pemberontakan yang tidak ada hasilnya. Saya berpikir, ya Allah, saya tidak bisa begini terus,” kenangnya.

Setelah dua tahun dalam peperangan melawan kenyataan, akhirnya Roslinawati sampal pada tahap penerimaan. Shalat tahajud dan membaca Al Qur’an menjadi katalisator kesadarannya. Pada Al Qur’an a menemukan ayat yang menyatakan, Allah tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan. Pada shalat Tahajud ia menemukan ketenangan dan keyakinan, Allah yang paling tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya, meski di mata manusia itu terlihat buruk. “Saya berusaha ikhlas. Sernakin jauh dari Allah, saya makin tersiksa. Ketika sudah pasrah ternyata saya menjadi tenang,” ujar-nya.

Kepasrahan itu kemudian membuka kesadaran-kesadaran lanjutan dalam diri Roslinawati. Ia merasa tidak enak telah merepotkan seluruh keluarga terutama ibunya. Apalagi adiknya menceritakan, ibunya sering menangis tanpa sepengetahuan Ros, sebab bila ia tahu, ibunya takut Ros menjadi makin sedih. Semua itu membuat Ros merasa bersalah. “Saya minta maaf dan bertanya, apa yang bisa membahagiakan Ibu. Saya sakit, tidak bisa memberi apa-apa lagi. lbu bilang, yang bisa membahagiakan Ibu kalau kamu sehat Itu saja,” kenangnya.

Sejak itu Roslinawati berjuang untuk sehat. Sempat juga Ia shock ketika pertama kali bercerrnin setelah dua tahun tidak berdandan. Di cermin itu, ia melihat badannya begitu kurus, kering, dan tua bagaikan nenek-nenek, hingga Ia sendiri pun menjerit kaget. Lagi-lagi, sang Ibu yang begitu tegar dan penuh cinta meyakinkannya. Tidak apa-apa, asal pikiran sehat, badan juga akan sehat.

Langkah pertama berjuang untuk sehat dan mandiri Ia wujudkan dengan berangkat ke tempat cuci darah sendirian. Ros yang semula harus diantar mobil bahkan digotong kini memilih naik ojek. “Saya yakin kalau berjalan untuk kebaikan pasti Tuhan melindungi. Di jalan istighfar terus, alhamdulillah sampai tujuan,” ujarnya.
Ros yang absen cukup lama dan kantornya pun kembali bekerja. Saking takutnya kalau sakit dan jatuh di jalanan, awalnya Ros membawa pembantu yang disuruhnya menunggu di lobby hingga saat pulang tiba. Pelan-pelan, semangat hidup mulai tumbuh, dan seiring dengan itu, tubuhnya makin sehat. Hati dan jiwanya mulai dipenuhi penerimaan dan keikhlasan, termasuk kesabaran melepas suami untuk wanita lain, karena lelaki yang telah memberinya dua putra itu tidak tahan hidup bersama istn yang sakit-sakitan.

Sejak itu, Ros mulai menata hidup dalam kesendirian dan tak sedetik pun terpikir untuk menikah lagi. Ia membangun ketenangan, selain dengan mendekatkan diri pada Allah, juga dengan melepaskan ambisi dan target yang dulu memenuhi angannya. Ia sadar, kini ia hidup dalam keterbatasan.

Satu-satunya target yang masih tersisa hanyalah menjalani hidup tanpa menyusahkan orang lain dan sebisa mungkin berguna di dunia ini. “Saya ingin di sisa hidup ini mendapatkan ketenangan lahir batin. Yang saya pikirkan hanya yang saya butuhkan. Selama Tuhan masih membeni nafas, saya harus tetap hidup yang sehidup-hidupnya, bukan hidup tapi mati. Hidup yang bermakna. Saya sakit tapi jiwa saya sehat,” tuturnya.

Acara. rutin cuci darah akhimya menjadi medan pertemuan Ros dengan Sigit Wismonugroho, lelaki yang kini menjadi suaminya. “Saya kenal karena cuci darah, sening bertemu. Tapi berpikir ke arah menikah awalnya merasa tidak mungkin karena kami sama-sama sakit. Orang sakit seperti saya, apa ada yang mau,” ujarnya.

Pertemuan demi pertemuan lama-lama mendekatkan keduanya. Mulai dan pertemuan di tempat cuci darah, ketika tanpa sengaja mereka mendapat tempat cuci darah yang bersebelahan, ikut seminar tentang ginjal, hingga menghadiri pernikahan suster yang merawat pasien gagal ginjal. Kedekatan kian erat ketika Sigit dirawat di rumah sakit dan Ros menengoknya. Sigit yang sendiriari karena baru saja ditinggal ibunya meninggal, mengundang iba dan sayang di hati Ros.

Saling berbagi cerita, akhimya kedua insan yang sama-sama pernah ditinggalkan pasangannya yang sehat ketika mereka divonis gagal ginjal itu merasa ingin membina hubungan lebih serius. Ros mengakui, awalnya belum saling jatuh cinta. Yang ada hanya rasa saling membutuhkan teman hidup. “Kalau Tuhan memberikan jodoh, tolong berikan yang terbaik. Saya tidak memilih, pokoknya yang terbaik di mata Allah,” ujarnya.

Niat kedua sejoli yang sama-sama sakit itu awalnya menimbulkan penolakan keluanga. “Orang sudah sakit, mengurus diri sendiri saja susah apalagi harus mengurus pasangannya, begitu kata keluarga saya,” uiar Ros. Di pihak keluarga Sigit pun, penolakan keluarga atas rencana pernikahan itu juga cukup serius. Sesungguhnya tidak masalah bila Sigit yang menduda itu ingin menikah, tapi mereka ingin Sigit mendapatkan mempelai yang sehat sehingga mampu merawat dirinya kelak. “Sigit bilang, orang sehat tidak ada yang mau sama dia. Justru karena sama-sama sakit, kami berdua saling mengerti,” paparnya.

Baik Ros maupun Sigit menyatakan, mereka berdua justru takut membina cinta dengan orang sehat. Rasa sakit ketika suami meninggalkan Ros dan pedih ketika istri meninggalkan Sigit masih segar dalam ingatan hingga keduanya khawatir, jangan-jangan orang sehat akan kernbali menyakiti hati mereka. Penolakan tak menghentikan langkah Sigit dan Ros menuju pelaminan. “Kalau memang dia jodoh saya, pasti perkawinan itu akan ada. Saya bilang, saya punya Tuhan yang akan melindungi asal niatnya karena Allah bukan karena nafsu saja. Saya tidak takut, saya jalani saja. Niat saya ibadah. Saya menolong suami yang sakit, suami bisa menolong saya yang sakitt tandas Ros.

Bagaimana pun, bila Tuhan berkehendak tak seorang pun dapat menahannya. Pernikahan yang awalnya mustahil bagi keduanya, akhirnya terlaksana, Ros menyatakan, ia bangga menikah dengan Sigit, lelaki yang menurut Ros sangat tabah menjalani cuci darah selama 14 tahun. “Yang paling saya cintai dari dia, semangat hidupnya, kesabarannya. Dia sakit, ditinggalkan istri, namun dia tetap bisa hidup mandiri, tetap bekerja, bahkan mampu merawat ibunya hingga meninggal dunia. Dia pasrah dan tenang menghadapi semuanya” ujar Ros.

Sigit mengakui, boleh dibilang keputusannya untuk menikahi Ros memang tindakan gila. “Kakak saya tidak setuju. Nanti kalau dua-duanya sakit bagaimana,” ujamya. Ia menceritakan, vonis gagal ginjal diterimanya ketika pernikahan dengan istri pertama baru sekitar empat bulan.

Seperti Ros, Ia pun sempat stres berat saat divonis harus cuci darah seumur hidup. “Saya belum bisa menerima. Setelah diberitahu, saya pulang. Cuaca sedang panas terik. Tapi saya kedinginan. Gemetar. Hidup sedang di puncak semangat. Baru saja menikah. Cita-cita sedang tinggi. Ketika divonis semua angan ambruk,” kenangnya.

Ketika sikap istrinya lama-lama berubah, dan akhirnya minta cerai, Sigit segera menyetujuinya karena sadar, sejak sakit memang ia tidak bisa mengimbangi keinginan istri. “Perawat bilang istri datang membawa laki-laki. Saya tanya, katanya tidak ada apa-apa. Tiga tahun kemudian dia minta cerai. Danipada saya dibohongin sakit hati, lebih cerai, jadi tidak kepikiran,” ucap-nya.

Sejak itu, Sigit mengerahkan segala daya untuk hidup mandiri, tentu dengan keterbatasan. Menikah lagi sama sekali tidak ada dalam benaknya. Saat itu, mengenang pernikahan identik dengan mengenang rasa disakiti orang yang dicintainya. Tapi Sigit tidak bisa mengelak dan kenormalannya sebagai lelaki. Sakit tidak mengikis habis kebutuhan untuk merniliki teman hidup, teman berbagi rasa.

Karenanya ia masih berharap, kalau ada orang mencintainya dia akan membalas cinta itu. “Temyata yang datang dalam hidup saya dia,” tutumya sambil menunjuk Ros.

Sigit yang fungsi ginjalnya tinggal sembilan persen itu mengenang, awalnya dia hanya merasa kasihan melihat Ros yang di awal pertemuan di tempat cuci darah terlihat kurus dan sakit parah. “Tahu-tahu bersebelahan waktu cuci darah. Tapi cuma sebentar. Terus seminar. Selesai acara, dia tidak langsung tapi ikut seminar sebuah MLM. Saya bilang, “ngapain sih, sudah mau mati masih ikut MLM. Itu hanya untuk orang sehat. Dia marah-marah” kata Sigit sambil tertawa terbahak-bahak.

Wajahnya terlihat bersinar dan geli ketika menceritakan Ros yang seolah tidak mau pulang kalau sedang menjenguknya di rumah sakit. Usut punya usut, temyata selain menengok karena simpati, Ros juga gencar memasarkan produk MLM yang diikutinya. ‘Saya dirayu beli produk pelembab kaki. Katanya, orang cuci darah kan kulitnya akan menghitam, makanya pakai produk jualannya supaya putih. Saya beli karena kasihan. Padahal dia sendiri pakai produk lain yang lebih murah,” tutur Sigit. lagi-lagi dengan tawa berderai.

Percaya diri dan gencar menawarkan dagangan, Ros yang di mata Sigit tergolong perempuan bernyali besar dan bermental baja itu, ketika hendak pulang mengaku tidak punya uang. Sambil tertawa, Sigit mengatakan Ia sering memberikan Ros ongkos untuk pulang.

Sigit mengungkapkan, ia menikah karena ingin hidup secara normal. Menurutnya, hidup sendiri itu tidak enak. Meski setelah menikah tanggungjawabnya lebih besar, karena kini ada seorang istri yang harus dilindungi serta frekuensi sakit yang kian sering karena keduanya bergantian diopname, tapi bagaimana pun Sigit merasa, pernikahan membuat hidupnya jauh lebih bahagia dan penuh warna. Kehadiran istri menjadi karunia besar dalam hidupnya. “Kalau sakit ada tempat mengeluh. Sekadar begitu saja sudah sangat membahagiakan,” ujarnya.

Meski sesungguhnya ada juga keinginan di hati.Sigit untuk memiliki keturunan dan darah dagingnya sendiri, tapi ia sadar, memiliki anak dalam kondisi seperti Ini tidak rasional karena kehamilan akan memperburuk kesehatan Ros.

Sadar hidup tak akan lama, Sigit yang fungsi jantungnya 70 persen dan Ros yang fungsi jantungnya tinggal 54 persen berkomitmen untuk tidak bertengkar karena hal itu hanya akan menyakiti dan membebani hidup yang mungkin tinggal sebentar saja.

Sigit dan Ros merasakan, betapa jauh lebih bahagianya pemikahan saat ini dibanding yang sebelumnya. Kondisi tubuh yang menurut perhitungan medis memang akan terus melemah justru memacu rnereka untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan seindah-indahnya. Berusaha menyempatkan waktu untuk selalu berduaan, bahkan saat cuci darah pun rnereka berusaha mendapat tempat tidur berdampingan. Sigit mengatakan, tiap hari mereka seperti orang berpacaran. Menjalani hidup tanpa pertengkaran, saling cinta, saling merawat, dan lebih dari itu, mereka tidak lagi memiliki ambisi dan keinginan muluk, selain hanya ingin menyelesaikan hidup di dunia tanpa menyusahkan orang lain.

“Setelah menikah, tidak pernah berpikir soal rencana ke depan karena sadar umur kami tidak akan lama. Cuma kita tidak tahu kapan tapi pasti tidak lama,” ujar Sigit yang kini jari-jari tangannya mulai melemah, tulang mulai kaku sehingga kalau shalat terpaksa harus duduk.

Membicarakan kernatian, bagi pasangan ini bukan hal tabu. Ros berkali-kali mengucapkan, meski dia hampir terbiasa melihat pasien gagal ginjal meninggal dunia, tapi ia merasa tidak bisa hidup lagi kalau tiba giliran Sigit untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Namun Sigit yang nampak lebih rasional mengatakan, hidup harus terus dijalani, meski tentu sangat berat, kalau Ros yang pergi mendahuluinya. Bagaimana pun, toh Ia tidak bisa rneminta atau menunda kematian.

Kesadaran akan kian melemahnya tubuh, dan ancaman kematian yang terus membayangi hidup tak berarti mereka bercucuran air mata setiap waktu Bagi Ros, mencintai suami memberikannya kekuatan, memberinya kepercayaan. “Saya harus kuat karena saya cinta dia, saya ingin menolong dia. Ketika saya lemah saya merasa dicintai dan itu membuat saya percaya diri. Kami mencintai kelemahan masing-masing. Jadi tidak ada saling menyalahkan atau penyesalan. Yang timbul hanya rasa kasih dan sayang,” tutur Ros.

Kini Ros dan Sigit terus berusaha menjalani hidupnya dalam ketenangan. Pernikahan yang diterima sebagai karunia besar, berusaha mereka nikmati dan syukuri. Mereka saling mencintai nyaris tanpa tuntutan, ambisi, atau angan yang muluk, yang biasanya menjadi milik orang yang sehat dan juga menjadi sumber kegelisahan hidup.

Setengah bercanda, Sigit menyatakan. kini ia dan istnnya hanya ingin bersenang-senang. Menikmati honey moon di Bali atau Yogyakarta adalah satu-satunya keinginan yang masih ada dl hatinya, namun ia tidak tahu kapan terlaksana. “Hidup bersama dia sangat nyaman,” ucap Sigit lirih.

Kesadaran Sigit dan Ros menyongsong kematian, justru menyebabkan mereka sungguh-sungguh menghargai waktu, kehidupan, dan cinta kasih pasangan. Mencurahkan kasih dan perhatian selagi bisa, serta masih diberi kesempatan, dengan kualitas maksimal serta melepaskan hal sia-sia yang merusak ketenangan jiwa.

Gagal ginjal yang telah bertahun-tahun diderita bagaikan alarm yang terus menerus mendentangkan peringatan akan dekatnya kematian. Dan sepasang kekasih itu saling mengikatkan hati untuk menantinya dengan segenap doa dan keikhlasan.

Cara Membuat Nasi Gareng


Bahan-bahan yang dibutuhkan:
-Nasi
-Bawang
-Cabe
-Garam
-Telur
-Minyak goreng
-Penyedap rasa
Cara mengolah:

Pertama-tama masukkan minyak goreng kedalam penggorengan tunggu sampai mendidih, kemudian masukkan bawang beserta cabe yang telah diiris-iris tipis, tunggu sampai tercium harumnya yang berarti telah masak maka kita dapat melanjutkan ketahap berikutnya yaitu masukkan garam secukupnya, kemudian masukkan telur sambil dioseng-oseng agar telur hancur berantakkan dan tunggu sampai masak, kemudian masukkan nasi sesuai dengan yang diinginkan dan yang terakhir masukkan penyedap rasa agar rasa nasi goreng lebih nikmat untuk disantap. mantap!