Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang hidup dimuka bumi. Setelah berapa lama mereka hidup berdua, akhirnya tuhan mengaruniai mereka anak. Anak yang dilahirkan Hawa selalu kembar (laki-laki dan perempuan), begitu pula pada kelahiran kedua. Pada kelahiran pertama, anak laki-laki diberinama Qobil dan yang perempuan diberi nama Iklima. Iklima memiliki paras yang cantik, begitu pula dengan Qobil memiliki paras yang tampan. Pada kelahiran kedua si laki-laki diberi nama Habil dan yang perempuan diberinama Labuda. Jika dibandingkan dengan saudara tuanya, kedua anak itu memiliki paras yang tidak cantik dan tidak tampan.
Adam sebagai orang tua dari keempat anaknya mengajari bercocok tanam dan beternak. Dengan demikian mereka dapat mencari nafkah sendiri setelah usianya menginjak dewasa. Qobil yang dilahirkan pertama mempunyai sifat dan perangai buruk sedangkan Habil malah sebaliknya. Qobil selalu iri jika melihat Habil berhasil dalam segi pertanian dan peternakan.
Ketika dua saudara itu beranjak dewasa, maka Adam berniat mengawinkan mereka. Perkawinan itu tidak dapat ditentukan oleh Adam. Untuk itu beliau meminta petunjuk kepada Allah. Dan menurut peraturan Allah, Qobil dikawinkan dengan Labuda, sedangkan Habil dikawinkan dengan Iklima. Artinya Qobil dikawinkan dengan saudara kembar Habil, demikian pula sebaliknya. Setelah mendapat petunjuk dari Allah maka Adam pun mengatakannya kepada anak-anaknya.
Mendengar keterangan ayahnya, Qobil tidak mau menerima kenyataan. Sebab calon istrinya yaitu Labuda mempunyai paras yang jelek. Maksudnya ia harus dikawinkan dengan Iklima saudara kembarnya. Mengapa demikian? Karena Iklima memiliki paras yang cantik.
Qobil yang memiliki perangai jahat tetap bersikap keras tidak mau menerima peraturan Allah yang diturunkan kepada ayahnya, sehingga timbullah percekcokan. “Hai Qobil, peraturan ini bukanlah ayah yang membuat, namun Allah yang membuatnya”, kata Adam dengan lamah lembut. “Meskipun demikian saya tidak mau kawin dengan Labuda yang jelek itu, ayah”, jawab Qobil.
Karena Qobil bersikeras pada pendiriannya, maka Adam pun meminta petunjuk kepada Allah guna mengatasi masalah itu. Kemudian Allah berfirman agar kedua saudara yang berebut Iklima mempersembahkan qurban. Tujuan mengadakan qurban ialah untuk menentukan siapa yang akan dikawinkan dengan Iklima.
Setelah mendapat petunjuk dari Allah, Adam pun berkata kepada anaknya. “Qobil dan Habil, karena kalian masih memperebutkan Iklima maka allah meminta qurban dari kalian”, kata nabi Adam kepada anaknya.
“Dimana kami menaruh qurban itu ayah?” tanya Qobil.
“Allah telah menentukannya, yaitu dipuncak gunung!” kata Adam
“Bagaimana tandanya bahwa qurban itu diterima ayah?” tanya Qobil dan Habil.
“Qurban yang diterima oleh Allah adalah habisnya barang persembahan”.
“Barang apa saja yang bisa dijadikan qurban?”
“Barang yang bisa dijadikan qurban ialah hewan ternak dan hasil pertanianmu”.
“Hendaknya barang yang dipersembahkan untuk qurban jika hasil peternakan yang gemuk dan dari pertanian yang masih baik”, tambah nabi Adam.
Karena Qobil memiliki perilaku yang buruk, maka ia tidak mau menuruti perintah ayahnya. Untuk itu dipilihnya hewan ternak yang kurus dan buah-buahan yang sudah rusak, karena ia mempunyai pikiran bahwa untuk mendapatkan hewan gemuk dan buah yang baik harus mengeluarkan tenaga.
Jika Qobil memiliki perilaku buruk, maka lain lagi dengan Habil. Ia mempersembahkan hewan gemuk dan buah yang baik. Hal ini disebabkan oleh pikirannya yang bersih. Ia yakin bahwa hewan ternaknya menjadi banyak dan buahnya bertambah lebat karena Allah. Sehingga ia mengorbankan miliknya dengan rela.
Tibalah hari yang dinantikan kedua anak Adam. Keesokan harinya mereka naik ke puncak gunung yang telah ditunjuk nabi Adam dengan membawa barang qurban. Setelah mereka menaruh ditempat yang paling tinggi dan batas tertentu barulah mereka pulang. Malam hari kedua anak itu tidak bisa tidur. Qobil memikirkan dan berharap agar qurbanya diterima. Sedangkan Habil berdoa dengan tulus. “Ya Allah yang Maha mengetahui. Aku bersujud dan meminta padaMu agar kiranya qurbanku Kau terima. Hanya Engkau tempat aku meminta.” Doa Habil ditengah malam. Ia berdoa dengan segenap jiwa raganya. Tanpa sadar ia meneteskan air mata.
Setelah matahari terbit bergegas mereka menuju ke puncak geneng untuk melihat qurban mereka. Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Dan ternyata qurban Habil lah yang diterima oleh Allah karena barang-barang persembahannya tidak ada lagi ditempatnya. Melihat qurban persembahannya sudah tidak ada lagi, tiada henti-hentinya Habil mangucapkan syukur kehadirat Allah. “Ya Allah kiranya Engkau telah mendengarkan permintaanku, sehingga qurbanku telah Kau terima. Alhamdulilllah ya Allah. Hanya Engkau yang mengetahui isi hati kami”, ucap Habil sambil bersujud.
Lain lagi dengan Qobil. Begitu ia melihat barang qurbannya masih ada dan tidak berkurang sedikitpun, ia jadi marah sambil menendang barang qurbannya. Ia memaki-maki Habil, katanya ini tidak adil. Ia berprasangka bahwa Habil selalu didoakan ayahnya. “Hai Habil, aku tahu bahwa kamu selalu didoakan ayah, sehingga barang qurbanmu deterima Allah, “ucap Qobil dengan berang. Meskipun Habil dituding demikian, ia tetap tenang menjawabnya. “Tidak begitu kakak, sebenarnya kita semua didoakan ayah, semua ini hanya Allah yang mengetahui. Saya menyerahkan barang qubanku dengan rela”, jawab Habil.
Mendengar jawaban Habil dengan tenang menyebabkan Qobil terkejut dan naik pitam. Ia mengira Habil mengejeknya. Hal ini menyebabkan percekcokan diantara keduanya. Disaat itulah iblis datang dan berpihak kepada Qobil. “Kamu tidak perlu bertengkar, jika perlu bunuh saja Habil agar kamu bisa kawin dengan Iklima”, bujuk iblis. Meskipun demikian ia masih berpikir waras. Sehingga rejadi pertentangan batin antara membunuh dan tidak melakukannya.
Ketika hatinya mulai goyah, maka iblis pun semakin melancarkan bujur rayu kepada Qobil untuk membunuhnya serta merta ia memukul Habil yang ada dihadapannya. Habil yang tahu maksud kakaknya tidak mengelakketika Qobil memukulnya. Semua itu ia serahkan kepada keadilan Allah dan ia terima. Sehingga kematiannya tidak dapat dielakkan. Demgam demikian Qobil merupakan orang pertama yang melakukan pembunuhan dimuka bumi ini.
Setelah membunuh adiknya, Qobil merasa berdosa, menyesal dan takut terhadap ayahnya. Karena hatinya merasa dikejar dosa yang bersatu dengan penyesalan, ia pun kebingungan. Mayat adiknya dipanggul kesana kemari. Ia bingung tidak tahu akan diapakan mayat adiknya itu. “Kemana harus kubawa mayat adikku ini”, gumam Qobil sambil bersandar dibawah pohon rindang. Disaat demikian rasa sesalnya timbul kembali.
Allah maha pengasih. Meskipun qobil telah melakukan pembunuhan, ia deberi jalan oleh Allah. Allah menyuruh dan mengirim dua ekor burung gagak, keduanya berkelahi sehingga salah satunya mati. Melihat kejadian itu Qobil teringat kelakuannya terhadap adiknya Habil. Setelah salah satunya mati, maka gagak yang hidup menggali tanah dan menguburnya. Kelakuan gagak yang masih hidup itu tidak terlepas dari pengamatan Qobil. Dengan serta merta ia meniru gagak tadi. Ia menggali tanah dan menguburkan adiknya.
Setelah menguburkan adiknya, Qobil tidak pulang kerumah. Hal ini menyebabkan Adam dan Hawa merasa khawatir, meskipun demikian mereka menyerahkan semuanya kepada Allah. Adam pun sebenarnya sudah mengetahui kejadian yang menimpa Habil, karena ia diberi petunjuk oleh Allah.
Semua kejadia yang menimpa kedua anaknya adalah hasil tipu daya iblis. Karena ia tidak senang jika melilhat anak cucu Adam mempunyai prilaku yang baik, taqwa pada Allah. Semua ini disebabkan oleh janjinya kepada Allah yang akan selalumembujuk anak cucu Adam untuk diseretnya kedalam prilaku yang buruk sampai hari kebangkitan (kiamat).
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Januari 2008
Kamis, 13 Desember 2007
ILMU PENGETAHUAN & KEBENARAN
Copernicus, penemu teori “Matahari-sentris”, sangat ditentang kala itu, khususnya oleh kalangan gereja yang meyakini “Bumi-sentris”. Pada tahun 1609, Galileo, sang penemu teleskop, mendukung teori Copernicus. Melalui teleskopnya dia bisa melihata saturnus yang dilingkari gelang-gelang, dan tahulah dia bahwa ada buah planet yang berputar mengelilingi bumi ini. Selanjutnya penelitiannya itu beralih ke planet Venus. Ini merupakan bagian dari bukti penting yang mengukuhkan teori Copernicus bahwa bumi dan semua planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Hal inipun sebenarnya telah dibenarkan oleh Al-qur’an sebagai berikut:
“Ia-lah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, (Ia-lah yang) menentukan manzilah-manzilah baginya, supaya kamu tahu jumlah tahun dan penghitung (waktu). Tiada allah menciptakan ini, kecuali dengan sebenarnya. (Demikianlah) Ia menjelaskan ayat-ayat bagi orang yang mengetahui. (surat yunus ayat 5)”
Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan Galileo barhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya pada tahun 1616. Dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus. Galileo merasa terjepit selama bertahun-tahun. Baru setelah paus meninggal dunia pada tahun 1623, dia (paus) digantikan oleh orang yang mengagumi Galileo. Paus baru ini, Urban VIII, mamberi pertanda walau samar-samar bahwa larangan terhadap Galileo tidak lagi diteruskan.
Enam tahun berikutnya Galileo menyusun karya ilmiahnya yang berjudul “Dialog Tentang Dua Sistem Penting Dunia”. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja menanggapi dengan sikap berang tatkala buku itu terbit, dan Galileo langsung diseret ke muka Pengadilan Agama diRoma. Hukuman terhadapnya hanyalah suatu permintaan agar dia secara terbuka mencabut kembali pendapatnya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Ilmuan berusia 69 tahun ini terpaksa melaksanakannya (permintaan gereja) dihadapan pengadilan terbuka. Tetapi dia menunduk kebumi danberbisik pelan, “lihat dia (bumi ini) masih terus bergerak (berevolusi).” Dan Galileopun meninggal pada tahun 1642.
Kisah diatas sekiranya bisa menggambarkan, bahwa terkadang suatu kebenaran atas suatu ilmu pengetahuan sering ditutup-tutupi, untuk kepentingan diri sendiri atau oleh suatu golongan tertentu. Kejadian seperti diatas tidak hanya terjadi pada skala besar tetapi juga sering muncul untuk skala yang mungkin lebih kecil seperti kebohongan seorang manajer keuangan terhadap perusahaannya untuk menutup-nutupi tentang adanya kebocoran dana, yang akhirnya mengakibatkan perusahaan itu hancur. Atau mungkin pejabat-pejabat tinggi Negara yang membohongi rakyat banyak tentang keadaan Negara yang sebenarnya, akibatnya muncul krisis moral dan ekonomi yang berkepanjangan hingga saat ini. Hal ini sangat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Ia-lah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, (Ia-lah yang) menentukan manzilah-manzilah baginya, supaya kamu tahu jumlah tahun dan penghitung (waktu). Tiada allah menciptakan ini, kecuali dengan sebenarnya. (Demikianlah) Ia menjelaskan ayat-ayat bagi orang yang mengetahui. (surat yunus ayat 5)”
Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan Galileo barhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya pada tahun 1616. Dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus. Galileo merasa terjepit selama bertahun-tahun. Baru setelah paus meninggal dunia pada tahun 1623, dia (paus) digantikan oleh orang yang mengagumi Galileo. Paus baru ini, Urban VIII, mamberi pertanda walau samar-samar bahwa larangan terhadap Galileo tidak lagi diteruskan.
Enam tahun berikutnya Galileo menyusun karya ilmiahnya yang berjudul “Dialog Tentang Dua Sistem Penting Dunia”. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja menanggapi dengan sikap berang tatkala buku itu terbit, dan Galileo langsung diseret ke muka Pengadilan Agama diRoma. Hukuman terhadapnya hanyalah suatu permintaan agar dia secara terbuka mencabut kembali pendapatnya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Ilmuan berusia 69 tahun ini terpaksa melaksanakannya (permintaan gereja) dihadapan pengadilan terbuka. Tetapi dia menunduk kebumi danberbisik pelan, “lihat dia (bumi ini) masih terus bergerak (berevolusi).” Dan Galileopun meninggal pada tahun 1642.
Kisah diatas sekiranya bisa menggambarkan, bahwa terkadang suatu kebenaran atas suatu ilmu pengetahuan sering ditutup-tutupi, untuk kepentingan diri sendiri atau oleh suatu golongan tertentu. Kejadian seperti diatas tidak hanya terjadi pada skala besar tetapi juga sering muncul untuk skala yang mungkin lebih kecil seperti kebohongan seorang manajer keuangan terhadap perusahaannya untuk menutup-nutupi tentang adanya kebocoran dana, yang akhirnya mengakibatkan perusahaan itu hancur. Atau mungkin pejabat-pejabat tinggi Negara yang membohongi rakyat banyak tentang keadaan Negara yang sebenarnya, akibatnya muncul krisis moral dan ekonomi yang berkepanjangan hingga saat ini. Hal ini sangat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
SALAH SATU MUKJIZAT AL QUR’AN
Al-qur’an diturunkan oleh Allah swt melalui nabi Muhammad saw yang buta huruf kala itu. Ia dilahirkan ditengah-tengah kaum yang terbelakang peradabannya, dijazirah Arab. Al-qur’an diturunkan selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.
Seperti diketahui, seringkali Al-qur’an turun secara spontan, guna menjawab barbagai pertanyaan atau mengomentari suatu perstiwa. Pertanyaan itu dijawab secara langsung, namun demikian, setelah rampung diturunkan dan disusun, kemudian dilakukan analisis serta perhitungan terhadap catatan redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakan, seperti keserasian, atau jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Anda bisa bayangkan, Al-qur’an diturunkan secara sepotong-sepotong dan spontan, ditempat yang berlainan dalam waktu yang relatif panjang, dan terdiri dari 114 surat dan 77.493 kata. Serta turun melalui orang yang tidak bisa menulis dan membaca saat itu. Namun banyak ditemukan hal-hal yang mengejutkan. Contoh: dua kata yang sepadan dalam jumlah yang sama dan seimbang. Dan kata-kata yang berlawanan arti juga ditemukan dalam jumlah yang seimbang. Hanya sesuatu yang maha dahsyat yang mampu melakukan hal itu, dzat yang sangat tinggi ilmunya dan sangat luar biasa ketelitiannya. Dibuat dan disusun lebih dari seribu tahun yang lalu.
Abdur Razaq Nawfal, dalam Al I’jaz li al-qur’an al karim yang terdiri dari 3 jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara singkat dari tulisan karya M. Quraish Shihab yang berjudul “Membumikan Al-qur’an”, yaitu sebagai berikut:
a. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Bilangan Antonimnya
Beberapa contoh, diantaranya:
- Al Hayah (hidup) dan Al Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali!
- An Naf’ (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali!
- Al Har (panas) dan Al Bard (dingin), masing-masing sebanyak 4 kali!
- As Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing sebanyak 167 kali!
Seperti diketahui, seringkali Al-qur’an turun secara spontan, guna menjawab barbagai pertanyaan atau mengomentari suatu perstiwa. Pertanyaan itu dijawab secara langsung, namun demikian, setelah rampung diturunkan dan disusun, kemudian dilakukan analisis serta perhitungan terhadap catatan redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakan, seperti keserasian, atau jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Anda bisa bayangkan, Al-qur’an diturunkan secara sepotong-sepotong dan spontan, ditempat yang berlainan dalam waktu yang relatif panjang, dan terdiri dari 114 surat dan 77.493 kata. Serta turun melalui orang yang tidak bisa menulis dan membaca saat itu. Namun banyak ditemukan hal-hal yang mengejutkan. Contoh: dua kata yang sepadan dalam jumlah yang sama dan seimbang. Dan kata-kata yang berlawanan arti juga ditemukan dalam jumlah yang seimbang. Hanya sesuatu yang maha dahsyat yang mampu melakukan hal itu, dzat yang sangat tinggi ilmunya dan sangat luar biasa ketelitiannya. Dibuat dan disusun lebih dari seribu tahun yang lalu.
Abdur Razaq Nawfal, dalam Al I’jaz li al-qur’an al karim yang terdiri dari 3 jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara singkat dari tulisan karya M. Quraish Shihab yang berjudul “Membumikan Al-qur’an”, yaitu sebagai berikut:
a. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Bilangan Antonimnya
Beberapa contoh, diantaranya:
- Al Hayah (hidup) dan Al Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali!
- An Naf’ (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali!
- Al Har (panas) dan Al Bard (dingin), masing-masing sebanyak 4 kali!
- As Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing sebanyak 167 kali!
- Al thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing sebanyak 13 kali!
- Al Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (harap/ingin), masing-masing sebanyak 8 kali!
- Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman dalam bantuk definite masing-masing sebanyak 17 kali!
- Kufr (kekufuran) dan Iman dalam bentuk indefinite masing-masing sebanyak 8 kali!
- Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing-masing sebanyak 1 kali!
b. Keseimbangan Jumlah Kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya, contoh:
- Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/bertani), masing-masing sebanyak 14 kalil!
- Al ‘Ushb dan Al Dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing sebanyak 27 kali!
- Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya)), masing-masing sebanyak 17 kali!
- Al Islam dan Al Wahyu (Al-qur’an, Wahyu dan Islam), masing-masing sebanyak 70 kali!
- Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya), masing-masing sebanyak 49 kali!
- Al Jahr dan Al ‘Alamiyah (nyata), masing-masing sebanyak 16 kali!
c. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya, contoh:
- Al Infaq (infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing sebanyak 75 kali!
- Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing sebanyak 12 kali!
- Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakah (kebajikan yang banyak), masing-masing sebanyak 32 kali!
- Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadhb (murka), masing-masing sebanyak 26 kali!
d. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Kata Penyebabnya, contoh:
- Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing sebanyak 23 kali!
- Al Maw-izhah (nasehat/petuah) dengan Al Lisan (lidah), masing-masing sebanyak 25 kali!
- Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing sebanyak 6 kali!
- Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing sebanyak 60 kali!
e. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, ditemukan juga Keseimbangan Khusus, contoh:
- Kata Yawm (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali! Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
- Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan! Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun!
- Al-qur’an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh” penjelasan ini diulanginya dalam “tujuh” kali pula!
- Kata-kata yang menunjukkan kepada utusan tuhan baik rasul, nabiyy (nabi), Basyir (pembawa berita), ataupun nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.
Masih ada lagi, mukjizat lainnya yaitu pemberitaan-pemberitaan ghaibnya. Fir’aun yang mengejar-ngejar nabi Musa diceritakan dalam Surat Yunus. Pada ayat 92 surat itu, ditegaskan bahwa: “Badan Fir’aun akan diselamatkan tuhan untuk dijadikan pelajaran generasi berikutnya. itu terjadi pada1200 SM. Pada tahun 1896, ahli purbakala, Loret menemukan dilembah raja-raja Luxor Mesir, satu mummi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama “Maniptah” yang pernah mengajar nabi Musa as. Setiap orang yang berkunjung ke Museum Kairo akan dapat melihat mummi dari Fir’aun tersebut.
Isyarat-isyarat ilmiahnya, banyak sekali ditemukan didalam Al-qur’an. Misalnya, “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan dari cahaya matahari”(Q.S 10:11)
Semua hal diatas menunjukkan bukti-bukti bahwa Al-qur’an sungguh-sungguh firman suci yang diturunkan oleh Allah malalui nabi Muhammad saw. Bukan karangan manusia. Tidak akan mungkin ada seseotang yang mampu menyusun suatu kitab seperti Al-qur’an, yang diturunkan secara spontan dan terpisah-pisah, baik dari sisi waktu dan tempat, namun dengan isi yang bisa diterima sebagai kebenatan serta memiliki jumlah kata-kat yang seimbang seperti contoh diatas seperti itu, apalagi saat itu belum ada computer.
Dan menurut Rasyad Khalifah (w. 1990M) angka 19 memiliki arti yang berkaitan dengan Al-qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Didalam Al-qur’an, kata ism, Allah, Ar Rahman, dan Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698:19=142), Ar Rahman 57 kali (57:19=3), Ar Rahim 114 kali (144:19=6).
Bismillahirrohmanirrohim adalah pangkalan tempat muslim bertolak, yang mempunyai 19 huruf, demikian juga dengan ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah” (tiada daya dan upaya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan allah). Inilah salah satu kunci yang mengamankan kesucian Al-qur’an yang merupakan salah satu mukjizatnya.
Jadi, mungkinkah seorang manusia mampu membuat suatu buku (Al-qur’an) dengan menghitung hingga huruf-hurufnya seperti itu. Namun tetap dengan tujuan untuk menyampaikan suatu amanat, melalui kalimat-kalimat yang demikian indah. Dan ia disampaikan secara mendadak, untuk menjawab dan merespons suatu pertanyaan. Kemudian secara terpisah diturunkan selama lebih dari 22 tahun, lalu dikumpulkan menjadi satu. Siapakah yang mampu melakukannya? Isinya pun harus benar dan masuk akal. Serta harus sesuai dengan hati nurani setiap manusia, dan harus pula bisa dibuktikan kebenarannya, baik ditinjau dari masa lalu, sekarang, atau masa yang akan datang.
Katakanlah: “Sesungguhnya, jika manusia dan jin berhimpun untuk membuat sesuatu yang sama dengan Al-qur’an ini, tiadalah mereka sanggup membuat yang sama seperti itu, sekalipun mereka saling membantu.(surat Al Israa’ ayat 88).”
- Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman dalam bantuk definite masing-masing sebanyak 17 kali!
- Kufr (kekufuran) dan Iman dalam bentuk indefinite masing-masing sebanyak 8 kali!
- Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing-masing sebanyak 1 kali!
b. Keseimbangan Jumlah Kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya, contoh:
- Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/bertani), masing-masing sebanyak 14 kalil!
- Al ‘Ushb dan Al Dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing sebanyak 27 kali!
- Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya)), masing-masing sebanyak 17 kali!
- Al Islam dan Al Wahyu (Al-qur’an, Wahyu dan Islam), masing-masing sebanyak 70 kali!
- Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya), masing-masing sebanyak 49 kali!
- Al Jahr dan Al ‘Alamiyah (nyata), masing-masing sebanyak 16 kali!
c. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya, contoh:
- Al Infaq (infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing sebanyak 75 kali!
- Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing sebanyak 12 kali!
- Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakah (kebajikan yang banyak), masing-masing sebanyak 32 kali!
- Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadhb (murka), masing-masing sebanyak 26 kali!
d. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Kata Penyebabnya, contoh:
- Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing sebanyak 23 kali!
- Al Maw-izhah (nasehat/petuah) dengan Al Lisan (lidah), masing-masing sebanyak 25 kali!
- Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing sebanyak 6 kali!
- Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing sebanyak 60 kali!
e. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, ditemukan juga Keseimbangan Khusus, contoh:
- Kata Yawm (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali! Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
- Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan! Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun!
- Al-qur’an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh” penjelasan ini diulanginya dalam “tujuh” kali pula!
- Kata-kata yang menunjukkan kepada utusan tuhan baik rasul, nabiyy (nabi), Basyir (pembawa berita), ataupun nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.
Masih ada lagi, mukjizat lainnya yaitu pemberitaan-pemberitaan ghaibnya. Fir’aun yang mengejar-ngejar nabi Musa diceritakan dalam Surat Yunus. Pada ayat 92 surat itu, ditegaskan bahwa: “Badan Fir’aun akan diselamatkan tuhan untuk dijadikan pelajaran generasi berikutnya. itu terjadi pada1200 SM. Pada tahun 1896, ahli purbakala, Loret menemukan dilembah raja-raja Luxor Mesir, satu mummi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama “Maniptah” yang pernah mengajar nabi Musa as. Setiap orang yang berkunjung ke Museum Kairo akan dapat melihat mummi dari Fir’aun tersebut.
Isyarat-isyarat ilmiahnya, banyak sekali ditemukan didalam Al-qur’an. Misalnya, “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan dari cahaya matahari”(Q.S 10:11)
Semua hal diatas menunjukkan bukti-bukti bahwa Al-qur’an sungguh-sungguh firman suci yang diturunkan oleh Allah malalui nabi Muhammad saw. Bukan karangan manusia. Tidak akan mungkin ada seseotang yang mampu menyusun suatu kitab seperti Al-qur’an, yang diturunkan secara spontan dan terpisah-pisah, baik dari sisi waktu dan tempat, namun dengan isi yang bisa diterima sebagai kebenatan serta memiliki jumlah kata-kat yang seimbang seperti contoh diatas seperti itu, apalagi saat itu belum ada computer.
Dan menurut Rasyad Khalifah (w. 1990M) angka 19 memiliki arti yang berkaitan dengan Al-qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Didalam Al-qur’an, kata ism, Allah, Ar Rahman, dan Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698:19=142), Ar Rahman 57 kali (57:19=3), Ar Rahim 114 kali (144:19=6).
Bismillahirrohmanirrohim adalah pangkalan tempat muslim bertolak, yang mempunyai 19 huruf, demikian juga dengan ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah” (tiada daya dan upaya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan allah). Inilah salah satu kunci yang mengamankan kesucian Al-qur’an yang merupakan salah satu mukjizatnya.
Jadi, mungkinkah seorang manusia mampu membuat suatu buku (Al-qur’an) dengan menghitung hingga huruf-hurufnya seperti itu. Namun tetap dengan tujuan untuk menyampaikan suatu amanat, melalui kalimat-kalimat yang demikian indah. Dan ia disampaikan secara mendadak, untuk menjawab dan merespons suatu pertanyaan. Kemudian secara terpisah diturunkan selama lebih dari 22 tahun, lalu dikumpulkan menjadi satu. Siapakah yang mampu melakukannya? Isinya pun harus benar dan masuk akal. Serta harus sesuai dengan hati nurani setiap manusia, dan harus pula bisa dibuktikan kebenarannya, baik ditinjau dari masa lalu, sekarang, atau masa yang akan datang.
Katakanlah: “Sesungguhnya, jika manusia dan jin berhimpun untuk membuat sesuatu yang sama dengan Al-qur’an ini, tiadalah mereka sanggup membuat yang sama seperti itu, sekalipun mereka saling membantu.(surat Al Israa’ ayat 88).”
Langganan:
Postingan (Atom)